MODEL
KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
Perspektif Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro
Pimpinan
suatu lembaga atau organisasi selalu ingin menumbuhkan motivasi kerja kepada
setiap staf atau bawahannya, dengan harapan motivasi kerja yang tinggi akan
menumbuhkan kinerja yang baik dan akan menghasilkan prestasi yang unggul dan
bermutu. Dalam menumbuhkan motivasi kepada staf atau bawahan, pimpinan lembaga
atau organisasi mempunyai cara yang berbeda. Cara-cara tersebut kemudian akan
menjadi suatu model perilaku yang kemudian menjadi sebuah Gaya yang dapat
disebut sebagai Gaya Kepemimpinan.
Kepemimpinan
pendidikan yang bersifat efektif dan inovatif akan menjadikan lembaga
pendidikan berkembang. Keberhasilan kepemimpinan di sekolah yaitu keberhasilan
kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh hal-hal pokok meliputi : kepribadian,
keteladanan, pemahaman konsep, kompetensi manajerial, dan profesionalisme
kepala sekolah. Kepala sekolah yang berhasil adalah kepala sekolah yang dapat
memanfaatkan kritik, saran dan masukan dari siapapun sebagai bahan pijakan
untuk maju dan memperbaiki kekurangannya.
Filosofi
Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro yang sering kita dengar di sekolah dan dunia
pendidikan pada umumnya serta sering kita baca di dalam buku-buku sejarah
adalah ungkapan : ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, dan tut wuri
handayani. Ungkapan tersebut sangat universal untuk diterapkan didunia
pendidikan sebagai model atau gaya kepemimpinan yang digali dari falsafah
bangsa Indonesia. Gaya kepemimpinan tersebut merupakan gaya kepemimpinan
keteladanan yang saat ini sangat didambakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Filosofi
problem solving sebagai ajaran yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantoro dengan
menggunakan ungkapan bahasa jawa yang universal (sangat universal) yaitu
Neng-Ning-Nung-Nang adalah salah satu gaya kepemimpinan yang merupakan hasil
pemikiran asli bangsa Indonesia. Neng – berati meneng atau tenang, Ning –
berarti wening atau bening, Nung – berarti dunung atau keberadaan (letak
dimana), dan Nang – berarti wenang atau kemampuan/kompetensi.
Problem
solving tersebut mengajarkan kepada para pemimpin dalam menghadapi suatu
masalah, bahwa seorang pemimpin harus dapat memecahkan permasalahan tanpa
membuat permasalahan baru. Dalam problem solving dikatakan “kita dapat
menangkap ikan tanpa membuat air menjadi keruh”, atau “kita dapat menangkap
ikan didalam kolam yang airnya keruh”. Dalam problem solving yang diajarkan
oleh Ki Hajar Dewantoro, seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah dengan
tepat dan dapat diterima oleh semua pihak tanpa ada yang merasa dirugikan.
Kepemimpinan dalam perspektif Ki
Hajar Dewantoro, sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia adalah : Neng,
Ning, Nung, Nang, yang merupakan singkatan dari : (1) Neng : Meneng ing solah
bowo; (2) Ning : Wening ing pikir manungku pujo; (3) Nung : Dumunung
kasunyatan; dan (4) Nang : Wenang ing jumenengan. Bila dikupas secara gamblang
dalam kehidupan masa kini, maka perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro
mengandung ajakan luhur yang harus dimiliki oleh para pememimpin bangsa, yang
mana pada saat ini sudah banyak ditinggalkan.
Pendahuluan
Setiap pemimpin suatu lembaga atau organisasi selalu ingin menumbuhkan motivasi
kerja kepada setiap staf atau bawahannya. Dengan harapan motivasi kerja yang
tinggi akan menumbuhkan kinerja yang baik dan akan menghasilkan prestasi yang
unggul dan bermutu. Dalam menumbuhkan motivasi kepada staf atau bawahan,
pimpinan setiap lembaga atau organisasi mempunyai cara yang berbeda. Cara-cara
tersebut kemudian menjadi suatu model perilaku yang kemudian menjadi sebuah
Gaya yang selanjutnya disebut sebagai Model atau Gaya Kepemimpinan.
Gaya kepemimpinan yang kooperatif dapat mendorong staf atau bawahan meningkat
motivasi kerjanya, sehingga produktifitas kerjanya meningkat pula. Dan sebaliknya
gaya kepemimpinan yang lemah, kurang dalam mendukung staf dan tidak komunikatif
akan mengakibatkan kurangnya motivasi kerja staf dan produktifitas akan
menurun. Lebih jauh lagi bila gaya kepemimpinan yang diterapkan lemah dan tidak
kooperatif atau tidak berorientasi kepada kebutuhan staf, maka akan menjadi
bumerang bagi pemimpin itu sendiri, dan pemimpin yang demikian tidak akan
diterima oleh bawahan.
Pembangunan Nasioanal melalui bidang pendidikan bertujuan mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia
yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan, terampil, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian, mandiri, serta
memiliki rasa tanggung jawab dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam upaya mencapai tujuan pembangunan nasional tersebut peranan pendidikan
sangat menentukan. Pendidikan pada umumnya dilaksanakan di sekolah dengan
menanamkan nilai-nilai luhur bangsa kepada siswa-siswinya melalui proses
pembelajaran. Agar proses pembelajaran yang efektif dan efisien berjalan sesuai
tujuan pembangunan nasional, perlu adanya kerja sama yang baik antara guru,
orang tua siswa, masyarakat sebagai stake holder, yang dimotori dan
dikoordinasikan oleh Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah adalah pemimpin tertinggi di sekolah. Pola kepemimpinannya
sangat berpengaruh bahkan sangat menentukan terhadap kamajuan sekolah. Pada
saat menjadi guru tugas pokoknya adalah mengajar dan mendidik siswa untuk
mempelajari mata pelajaran tertentu sedang sebagai Kepala Sekolah tugas
pokoknya adalah “memimpin“ dan “mengelola” segala aspek yang ada disekolah,
meliputi : pengelolaan kesiswaan, pengelolaan pembelajaran, pengelolaan sarana
prasarana dan fasilitas, pengelolaan SDM, pengelolaan kehumasan dan lain-lain
yang bermuara pada pencapaian tujuan sekolah.
Memimpin dan mengelola sangat mudah untuk dikatakan tetapi sulit untuk
dilaksanakan karena perlu keterampilan khusus dan pengorbanan terutama adalah
keteladanan. Seorang Kepala Sekolah harus menjadi suri teladan, baik bagi guru
dan stafnya maupun siswa. Dengan keteladanan akan menghasilkan kepemimpinan
yang kuat sehingga pada gilirannya tujuan pendidikan nasional dapat tercapai
sehingga generasi penerus bangsa akan menjadi generasi yang cerdas, terampil
dan mandiri.
A. Kepemimpinan Pendidikan
Zaman yang berbeda menghasilkan pemikiran yang berbeda, zaman yang berbeda
melahirkan pemimpin yang berbeda. Topik kepemimpinan bila dibahas dan
dibicarakan, sangat menarik dan tidak akan ada habisnya. Berbagai tantangan
kepemimpinan dan peran sentral pemimpin dalam menghadapi situasi turbulensi,
khususnya yang dihadapi bangsa ini, sangat komplek dan memerlukan legitimasi
sentral agar dapat diterima oleh semua pihak didalam menerapkan “kecerdasan”
dalam kepemimpinannya.
Krisis yang dialami setiap organisasi, termasuk didalamnya organisasi
pendidikan, berakar pada krisis kepemimpinan nasional, khususnya berupa
tantangan terhadap kecerdasan kita, yang tidak dapat lagi diantisipasi sekedar
dengan kecerdasan rasional (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), namun menuntut
peran kunci kecerdasan spiritual (SQ) sebagai induk segala kecerdasan.
Belajar dan berubah adalah satu-satunya cara untuk tidak tergilas oleh
gelombang turbulensi global. Proses tersebut diawali dengan membangun mental
pembelajaran (learning mental) – self-awareness, self-acceptance,
self-improvement – dan kemudian diikuti dengan membangun perilaku pembelajaran
(learning behavior) – observe, assess, design, implement — dengan
mendayagunakan daya transformatif yang dimiliki oleh kecerdasan spiritual (SQ)
sebagai mesin penggeraknya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu faktor pendorong kemajuan adalah
kepemimpinan yang kuat sekaligus melayani masyarakat. Pemimpin yang kuat
sekaligus melayani adalah pemimpin yang berhasil menerapkan prinsip
kepemimpinan, bahwa inti kepemimpinan adalah memengaruhi (leadership is
influence). Dalam hal ini, memengaruhi orang-orang yang dipimpin untuk
melaksanakan sesuatu demi mencapai tujuan bersama, bukan kepentingan pribadi,
kelompok, atau golongan tertentu.
Prinsip kepemimpinan yang kuat sekaligus melayani, bisa diterapkan di semua
tataran kepemimpinan. Mulai di tingkat rukun tetangga (RT), kepala desa/lurah,
kepala daerah, organisasi, perusahaan, sampai kepemimpinan tingkat nasional.
Dapat pula digunakan sebagai acuan masyarakat dalam mengharapkan kepemimpinan.
Sayangnya, masih banyak pemimpin kita yang berperan sebagai penguasa (pangreh),
bukan pamong. Bukan melayani, tapi ingin selalu dilayani.
Konsep kepemimpinan asli Indonesia yang sarat dengan falsafah luhur yang
mungkin sebagian sudah terlupakan, seperti Tiga Peran Pemimpin dan Sepuluh
Sifat Pemimpin yang Efektif dalam Kepemimpinan Sultan Banten, falsafah Wahyu
Makuto Romo yang bersumber dari pewayangan, serta konsep kepemimpinan Ki Hajar
Dewantoro yang sudah lama kita kenal : ing ngarso sung tulodo, ing madyo
mangunkarso, tutwuri handayani.
Kepemimpinan Pendidikan di Indonesia bila kita lihat dari segala permasalahan
yang dihadapi, lepas dari segala krisis kepemimpinan nasional, adalah
kepemimpinan yang melayani dan kepemimpinan keteladanan. Model kepemimpinan
tersebut lebih dekat dengan model kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar
Dewantoro, seperti yang sudah sering kita dengar yaitu : Ing ngarso sung tulodo,
Ing madyo mangunkarso dan Tut wuri handayani.
Dalam ajaran Ki Hajar Dewantoro yang lain, yang belum banyak dibahas dalam
karya-karya ilmiah, Ki Hajar Dewantoro memberikan 4 (empat) syarat kepribadian
yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin, yaitu : Meneng ing solah bowo,
Wening ing pikir manungku pujo, Dumunung kasunyatan, dan Wenang ing jumenengan.
Dari semua bahasan diatas, model kepemimpinan yang sesuai dan selaras dengan
kondisi dan perkembangan pendidikan di Indonesia menurut penulis adalah perspektif
kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro. Bila kita kupas, maka ada
14 (empat belas) sikap kepemimpinan yang di ajarkan yang dirangkum dalam 7
(tujuh) ajaran yaitu : (1) Keteladanan : Ing ngarso sung tulodo; (2) Motivasi :
Ing madyo mangun karso; (3) Mendukung dan percaya kepada bawahan : Tut wuri
handayani; (4) Sikap dan Kepribadian : Meneng Ing solah bowo; (5) Spiritual dan
Berfikir positif : Weninging pikir manungku pujo; (6) Jujur, terbuka dan dapat
dipercaya : Dumunung kasunyatan; dan (7) Berani, berkompeten dan profesional :
Wenang ing jumenengan
B. Kepemimpinan Kepala Sekolah
Dapatkah Kepemimpinan Kepala Sekolah yang efektif dan inovatif menjadikan
sekolah berkembang? Kepemimpinan Kepala Sekolah sangat dipengaruhi oleh hal-hal
sebagai berikut :
1. Kepribadian, kepribadian yang kuat akan membentuk karakter diri menjadi
tegas, cerdas dan ikhlas dalam menjalankan tugas yang menjadi tanggung
jawabnya. Karakter diri akan mengembangkan pribadi yang percaya diri, berani,
bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial.
2. Memahami tujuan, dengan memahami tujuan pendidikan dengan baik, kepala
sekolah akan selalu berjalan sesuai rel-rel hukum yang benar dalam mencapai
tujuan sekolah. Dengan pemahaman yang baik kepala sekolah tidak akan menghalalkan
segala cara, semua akan berjalan sesuai aturan yang berlaku.
3. Memiliki Pengetahuan yang Luas, dengan memiliki akar pengetahuan yang luas,
seorang kepala sekolah akan senantiasa menerima kritik dan saran sebagai tolok
ukur dan pijakan dalam bertindak dan menentukan kebijakan terutama kebijakan
yang menyangkut kepentingan orang banyak. Dan kepala sekolah akan selalu
menjadi manusia pembelajar.
4. Memiliki Kompetensi Profesional, keterampilan profesional yang terkait
dengan tugasnya sebagai Kepala Sekolah, yaitu :
a. Ketermpilan teknis, yaitu melaksanakan fungsi manajemen sekolah dengan benar
meliputi : perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan kontrol terhadap
seluruh aspek kegiatan persekolahan dan mampu memberdayakan seluruh sumberdaya
yang dimiliki oleh sekolah, baik sumberdaya bergerak maupun sumberdaya tidak
bergerak.
b. Hubungan kamanusian, yaitu menyadari diri sebagai pribadi yang memiliki
kekurangan sehingga senantiasa bekerja sama dengan orang lain, memotivasi,
mendorong guru dan staf untuk maju, dan memberikan pengayoman kepada semua
pihak.
5. Memiliki Keterampilan konseptual, seorang kepala sekolah harus memiliki
ketrampilan konseptual sehingga dapat dengan benar mengembangkan konsep
pengembangan sekolah, memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari jalan
pemecahannya dengan tepat tanpa mengakibatkan gejolak apapun.
Dalam mengembangkan sekolah perlu dipahami dan dilaksanakan prinsip-prinsip
kepemimpinan secara umum yang berlaku, yaitu :
1. Konstruktif, artinya Kepala Sekolah harus mendorong dan membina setiap staf
untuk berkembang.
2. Kreatif, artinya Kepala Sekolah harus selalu mencari gagasan dan cara baru
dalam melaksanakan tugas.
3. Partisipatif, artinya mendorong keterlibatan semua pihak yang terkait dalam
setiap kegiatan di sekolah.
4. Kooperatif, artinya mementingakan kerja sama dengan staf dan pihak lain yang
terkait dalam melaksanakan setiap kegiatan.
5. Delegatif, artinya berupaya mendelegasikan tugas kepada staf sesuai dengan
tugas / jabatan serta kemampuan mereka.
6. Integratif, artinya selalu mengitegrasikan semua kegiatan sehingga
dihasilkan sinergi untuk mencapai tujuan sekolah.
7. Rasional dan Objektif, artinya dalam melaksnakan tugas atau bertindak selalu
berdasarkan pertimbangan rasio dan objektif.
8. Pragmatis dalam menetapkan kebijakan atau target. Kepala Sekolah harus
mendasarkan pada kondisi nyata sumber daya yang dimiliki sekolah.
9. Keteladanan, artinya dalam memimpin sekolah, Kepala Sekolah dapat menjadi
contoh yang baik.
10. Adaptabel dan Fleksibel, artinya Kepala Sekolah harus dapat beradaptasi
dalam menghadapi situasi dan paradigma baru serta menciptakan situasi kerja
yang kondusif.
Dewasa ini sangat benyak Model atau Gaya Kepemimpinan yang dapat diterapkan
oleh para pimpinan atau lembaga dalam lembaga yang dipimpinnya. Kepala Sekolah
dapat memilih dan menerapkan model atau gaya kepemimpinan yang sesuai dengan
situasi maupun kondisi staf yang dipimpinnya. Diantara model dan gaya
kepemimpinan tersebut adalah :
1. Gaya Kepemimpinan Delegatif : dalam gaya kepemimpinan ini kepala sekolah
lebih banyak memberikan dukungan dan mendelegasikan tugas dan wewenang kepada
staf sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh staf tersebut. Sehingga staf
yang memiliki kemampuan baik akan termotivasi dan akan bekerja yang baik.
2. Gaya Kepemimpinan Partisifatif : Kepala Sekolah berpartisipasi aktif dalam
mendorong staf untuk menggunakan kemampuannya secara optimal, jika mengahadapi
staf yang memilki kamapuan kerja baik tetapi motivasi kerjanya kurang.
3. Gaya Kepemimpinan Konsultatif : Kepala Sekolah banyak memberikan bimbingan
sehingga kemampuan staf secara bertahap meningkat, jika menghadapi staf yang
memilki kerja yang kurang baik tetapi memilki motivasi kerja baik.
4. Gaya Kepemimpinan Instruktif : Kepala Sekolah lebih banyak memberi petunjuk
yang spesifik dan secara ketat mengawasi staf dalam mngerjakan tugasnya.
C. Fungsi Kepemimpinan Kepala Sekolah
Dalam model Kepemimpinan modern, kepemimpinan Kepala Sekolah ada tujuh fungsi
pokok yang sering kita sebut dengan akronim EMASLIM, yaitu : Kepala Sekolah
sebagai (1) Educator, (2) Managjer, (3) Administrator, (4) Supervisor, (5)
Leader, (6) Inovator, dan (7) Motivator.
1. Kepala Sekolah sebagai Educator
Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah.
Dan kepala sekolah sebagai guru (edukator) tidak dapat lepas dari tugas
utamanya yaitu mendidik. Dalam hal ini sebagai kepala sekolah, yang dididik
bukan hanya siswa, akan tetapi seluruh staf dan seluruh warga sekolah yang
dipimpin.
2. Kepala Sekolah sebagai Manajer
Sebagai manajer, kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya harus melakukannya
dengan prinsip-prinsip manajemen yang benar dengan menjalankan fungsi :
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan kontrol. Fungsi-fungsi tersebut
harus dijalankan pada seluruh aspek kegiatan yang ada di sekolah.
3. Kepala Sekolah sebagai Administrator
Sebagai administrator, berarti kepala sekolah harus menjalankan seluruh
kegiatan administrasi sekolah, dan bertanggung jawab atas terlaksananya seluruh
kegiatan administrasi di sekolah.
4. Kepala Sekolah sebagai Supervisor
Sebagai supervisor, kepala sekolah harus melakukan supervisi pada seluruh
kegiatan yang ada di sekolah, dan melakukan kontrol agar seluruh kegiatan
berjalan pada rel kebijakan yang telah ditetapkan.
5. Kepala Sekolah sebagai Leader
Sebagai leader atau pemimpin, kepala sekolah harus menjalankan fungsi
kepemimpinan yang menjadi tanggung jawabnya. Kepala sekolah sebagai leader
harus menetapkan garis-garis besar kebijakan, program dan kegiatan-kegiatan
operasional, dan kepala sekolah bertanggung jawab atas terlaksananya seluruh
kebijakan tersebut.
6. Kepala Sekolah sebagai Inovator
Sebagai inovator, kepala sekolah harus senantiasa mencari jalan pembaruan agar
sekolah senantiasa berkembang mengikuti perkembangan iptek. Kepala Sekolah
harus menjadi agen pembaharuan.
7. Kepala Sekolah sebagai Motivator
Sebagai motivator, kepala sekolah harus senantiasa memberikan motivasi dan
dorongan kepada semua pihak untuk maju, berkembang sesuai dengan keinginan individu,
dan berkembang guna memajukan institusi/lembaga.
D. Perspektif Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro
1. Filosofi Keteladanan
Filosofi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro yang terdengar klasik yang sering kita
dengar di sekolah dan dunia pendidikan pada umumnya serta sering kita baca
didalam buku sejarah adalah ungkapan : ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun
karso, tut wuri handayani. Ungkapan tersebut sangat universal untuk diterapkan
didunia pendidikan, karakter kepemimpinan, dan di dalam ilmu lain yang
mempelajari tentang perilaku manusia.
Bila kita kupas satu persatu ungkapan Ki Hajar Dewantoro tersebut dalam kontek
kepemimpinan pendidikan maka pemimpin yang handal harus memiliki sikap :
a. Ing ngarso sung tulodo, artinya dihadapan staf, pemimpin harus dapat memberi
teladan kepada seluruh bawahan atau staf yang dipimpin, untuk berlaku jujur,
disiplin, terbuka, berfikir positif, dan berkepribadian yang kuat
(berkarakter).
b. Ing madyo mangun karso, yang artinya diantara (dalam kebersamaan dengan)
staf yang dipimpinnya, pemimpin harus dapat membangkitkan semangat (motivasi)
kepada seluruh staf dan menjadi mitra yang sejajar untuk bersama-sama maju
menjadi agen pembaruan, dan mengajak staf untuk membangun gagasan dan kemudian
mewujudkannya secara bersama-sama.
c. Tut wuru handayani, yang artinya pemimpin pada saat dibelakang (ada maupun
tidak ada staf) selalu berusaha memberikan kepercayaan kepada staf yang
dipimpin, mendorong dan mendukung setiap staf untuk tampil maju menunjukkan
kemampuannya.
Dari tiga rangkaian kata yang merupakan ungkapan bagaimana seorang pemimpin
seharusnya, bagaimana seorang pemimpin harus bersikap, dan bagaimana seorang
pemimpin memotivasi bawahannya, maka dapat dikatakan disini bahwa Ki Hajar
Dewantoro lebih menekankan kepada pemimpin dan calon-calon pemimpin bahwa yang
utama harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah suatu sikap keteladanan, yang
mencakup seluruh aspek kehidupan yaitu : Jujur, disiplin, terbuka, berfikir
positif, dan berkepribadian yang kuat (berkarakter). Bila para pemimpin
memiliki sikap ketaladanan, maka tatanan kehidupan di dalam Pemerintahan akan
lebih baik dan permasalahan yang mungkin timbul dapat ditekan sekecil mungkin
terutama permasalahan-permasalahan di bidang pendidikan.
2. Problem Solving Ki Hajar Dewantoro
Barangkali kita pernah mendengar ungkapan Neng-Ning-Nung-Nang yang merupakan
filosofi problem solving yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro dengan
menggunakan ungkapan bahasa jawa yang universal (sangat universal). Neng–berati
meneng atau tenang, Ning–berarti wening atau bening, Nung–berarti dunung atau
keberadaan (tempat dimana), dan Nang–berarti wenang atau kemampuan/kompetensi,
(Keterangan : Kompetensi—kewenangan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki).
Dalam menghadapi suatu masalah, seorang pemimpin harus dapat memecahkannya
dengan tenang, berfikir positif, tanpa membuat gejolak apapun, serta dapat
diterima oleh semua pihak yang berkepentingan. Problem solving yang diajukan
oleh Ki Hajar Dewantoro diilustrasikan sebagai cara menangkap ikan di dalam air
keruh — ikannya terangkap, airnya menjadi bening. Bagaimana caranya?
Pertama, untuk dapat menangkap ikan pada air keruh, maka airnya harus meneng
(Neng), air harus didiamkan agar tenang atau meneng. Bila air sudah menjadi
tenang, maka air akan berubah menjadi bening (Ning). Kedua, bila air sudah
tenang dan menjadi bening, maka akan kelihatan dimana dunung-nya (Nung) ikan
yang akan kita tangkap. Ketiga, bila kita sudah tahu dimana dunungnya ikan yang
akan kita tangkap, maka kita akan dengan mudah menentukan bagaimana cara
menangkapnya, dengan alat apa, siapa yang harus menangkap, sesuai dengan
kompetensi atau ke-wenang-an (Nang) siapa. Keempat, pemimpin selanjutnya akan
menetapkan kewenangan siapa yang layak dan seharusnya menangkap ikan tersebut.
Jadi dalam problem solving ini, intinya pemimpin akan dengan tanpa ragu-ragu
menetapkan siapa mengerjakan apa, siapa sebagai apa, dan siapa melakukan
kewenangan apa didalam suatu lembaga yang dipimpinnya.
3. Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro
Menurut perspektif Ki Hajar Dewantoro, kepemimpinan yang sesuai dengan falsafah
hidup bangsa Indonesia adalah : Neng, Ning, Nung, Nang, yang merupakan sari
ungkapan (singkatan) dari : (1) Neng : Meneng ing solah bowo; (2) Ning : Wening
ing pikir manungku pujo; (3) Nung : Dumunung kasunyatan; dan (4) Nang : Wenang
ing jumenengan. Bila dikupas secara gamblang dalam kehidupan masa kini, maka
perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro mengandung ajakan luhur yang harus
dimiliki oleh para pememimpin bangsa, yang mana pada saat ini sudah banyak
ditinggalkan.
Secara lengkap perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro dapat dijabarkan
dengan bahasa yang sederhana sebagai berikut :
a. Neng : Meneng Ing Solah Bowo
Pemimpin harus memiliki kepribadian Meneng ing Solah bowo, artinya seorang
pemimpin harus bersikap tenang dalam menghadapi segala permasalahan yang
mungkin timbul dalam kepemimpinannya. Selain dari itu, pemimpin dalam
memutuskan permasalahan, mengambil kebijakan, menetapkan program harus senantiasa
tenang, tidak sembarangan (grusah-grusuh), semua melalui pertimbangan yang
panjang, cerdas, dan ikhlas. Bila pemimpin memiliki kepribadian tersebut maka
pemimpin akan berwibawa, diterima dan disegani oleh mereka yang dipimpin.
b. Ning : Weninging Pikir Manungku Pujo
Pemimpin yang Wening ing Pikir Manungku Pujo, senantiasa memproyeksikan segala
sesuatu yang dihadapi adalah berasal dari kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa,
sehingga dalam melakukan pemecahan masalah, penentuan kebijakan, dan penetapan
program maupun kegiatan di dalam lembaga yang dipimpin selalu dilandasi dengan
pikiran positif bahwa semua yang dikerjakan akan mendapat ridho dari Allah
Tuhan YME. Pemimpin yang demikian selalu berfikir positif (sabar, eling dan
narimo) dan melaksanakan tugas tanpa beban dan tanpa pamrih.
c. Nung : Dumunung Kasunyatan
Seorang pemimpin harus Dumunung Kasunyatan. Pemimpin harus berkehendak,
berbicara, dan bertindak sesuai dengan kenyataan yang ada. Tidak ada hal-hal
yang ditutupi dan tidak ada pilih kasih. Ciri pemimpin yang Dumunung Kasunyatan
selalu mengedepankan : Kejujuran, Keikhlasan, dan menjaga Nilai-nilai luhur
yang menjadi akar budaya masyarakat dan budaya organisasi. Pemimpin yang
demikian dapat menyesuaikan dengan keadaan dimanapun dia berada. Dumunung Kasunyatan
juga dapat berarti bahwa : Perkataan (lati), Fikiran (ati) dan Tindakan
(pekerti) adalah sama, sehingga pemimpin yang demikian melakukan tindakan
apapun tenang dan tanpa beban. Antara pembicaraan, tindakan dan fikiran selaras
dan sejalan, dalam bahasa jawa dikatakan bahwa : “Dadi pemimpin iku kudu Jumbuh
antarane pikiran, tindakan lan pangandikan, yen ora, nroko papane”.
d. Nang : Wenang Ing Jumenengan
Sikap Wenang ing Jumenengan dari seorang pemimpin adalah menyangkut masalah
kompetensi dan kepampuan profesional seorang pemimpin dalam menjalankan
kepemimpinannya yang terkait dengan manajemen sumber daya manusia. Seorang
pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya harus mampu melaksanakan
kewenangannya dalam membagi tugas sesuai dengan kemampuan staf yang dipimpin.
Wenang ing jumenengan selaras dengan pepatah populer : “The right man in the
right place”, artinya pemimpin harus memiliki kewenangan untuk mampu membagi
tugas sesuai dengan kompetensi-kompetensi yang dimiliki oleh staf yang
dipimpin. Berikan tugas kepada ahlinya. Akan tetapi yang sering terjadi pada
saat ini adalah kewenangan yang sewenang-wenang, dengan alasan hak prerogatif.
Hal ini tidak masuk dalam kepemimpinan yang diajarkan menurut perspektif Ki
Hajar Dewantoro.
Perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro yang selaras dengan falsafah
Kepemimpinan Jawa saat ini sudah banyak ditinggalkan oleh para pemimpin bangsa
saat ini. Akan tetapi sebagai kekayaan falsafah dan ilmu pengetahuan bangsa,
maka tidak ada salahnya apabila perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro ini
digali kembali untuk dikembangkan dan diterapkan pada model-model kepemimpinan,
terutama kepemimpinan di dalam dunia pendidikan yang memerlukan Keteladanan,
Motivasi, Kejujuran, Kerja Keras dan Kerja Ikhlas menuju dunia pendidikan yang
dapat bersaing di kancah Regional dan Internasional.
E. Kesimpulan
1. Model Kepemimpinan yang diajarkan Ki Hajar Dewantoro dapat dibagi dalam 7
(tujuh) sikap kepemimpinan yang dipersyaratkan sebagai seorang pemimpin yaitu :
(1) Keteladanan : Ing ngarso sung tulodo; (2) Motivasi : Ing madyo mangun
karso; (3) Mendukung dan percaya kepada bawahan : Tut wuri handayani; (4) Sikap
dan Kepribadian : Meneng Ing solah bowo; (5) Spiritual dan Berfikir positif :
Weninging pikir manungku pujo; (6) Jujur, terbuka dan dapat dipercaya :
Dumunung kasunyatan; dan (7) Berani, berkompeten dan profesional : Wenang ing
jumenengan.
2. Kepemimpinan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan jaman dan sesuai
dengan paradigma perkembangan pendidikan di Indonesia adalah Falsafah
kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro yang bila dijabarkan akan
menjadi 7 (tujuh) kepribadian pemimpin meliputi :
a. Keteladanan, yaitu pemimpin harus memiliki sikap dan kepribadian yang dapat
diteladani oleh staf dan bawahan yang dipimpin
b. Motivasi, yaitu pemimpin harus senantiasa memberikan motivasi kepada staf
yang dipimpin untuk selalu mengembangkan diri dan bersama-sama maju untuk
kepentingan bersama, kepentingan lembaga diatas kepentingan pribadi.
c. Legowo, yaitu sifat pemimpin yang memberikan kepercayaan penuh kepada staf
yang dipimpin untuk mengerjakan tugas yang diberikan tanpa tendensi apapun.
d. Tenang, yaitu pemimpin harus tenang dalam menghadapi permasalahan yang
timbul dan mungkin akan terjadi dalam lembaga yang dipimpinnya.
e. Berfikir Positif, yaitu pemimpin harus senantiasa berfikir positif dan
memperspektifkan bahwa segala yang terjadi didalam lembaga adalah karena
kehendak Yang Maha Kuasa.
f. Jujur, Ikhlas dan Dapat dipercaya, yaitu pemimpin yang berfikir, bertindak
dan berbuat sesuai kenyataan, apa adanya, adil dalam tindakan, perkataan dan
pikiran.
g. Berkompeten dan Profesional, yaitu pemimpin memahami bahwa kepentingan
lembaga adalah diatas kepentingannya, sehingga dalam melakukan tugas, membagi
kewenangan selalu memperhatikan kepentingan lembaga, sehingga tidak
sewenang-wenang. Segala tindakan selalu diproyeksikan untuk kemajuan lembaga
secara benar dan menyeluruh.
3. Perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro hanya akan menjadi cerita bila
tidak digali, dicermati dan dilaksanakan oleh generasi penerus bangsa. Ajaran
kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro perlu dibangkitkan kembali sebagai falsafah
bangsa untuk mengisi 100 tahun Kebangkitan Bangsa Indonesia.