welcome

welcome

Selasa, 09 Juni 2015

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik


  1. Factor Internal
Yaitu factor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri. Dengan demikian factor internal bisa dibagi menjadi 2 macam factor pisik dan factor psikis.
  1. Factor fisik
Di dunia ini orang mempunyai bentuk tubuh yang bermacam – macam. Ada yang tinggi ceking, ada yang pendek gemuk, dan ada yang sedang antara tinggi dan besar badanya. Sudah jelas, masing - masing mempunyai pengaruh tersendiri bagi perkembangan seorang anak.
  1. Factor psikis
Dalam hal kejiwaan, ada anak periang, sehingga banyak pergaulan. Akan tetapi ada pula yang selalu tampak murung, pendiam, mudah tersinggung karenanya suka menyendiri. Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis.Untuk mampu mempetimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula menentukan. Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

  1. Factor Eksternal
Yaitu hal – hal yang datang atau ada diluar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungan. Factor eksternal dibagi menjadi 6 macam : factor biologis, physis, ekonomis, cultural, edukatif, dan religious.
a.       Factor biologis
Bisa diartikan, biologis dalam konteks ini adalah factor yang berkaitan dengan   keperluan primer seorang anak pada awal kehidupanya: Factor ini wujudnya berupa pengaruh yang datang pertama kali dari pihak ibu dan ayah.
b.      Factor phyis
Maksudnya adalah pengaruh yang datang dari lingkungan geografis, seperti iklim keadaan alam, tingkat kesuburan tanah, jalur komunikasi dengan daerah lain, dsb. Semua ini jelas membawa dampak masing – masing terhadap perkembangan anak – anak yang lahir dan dibesarkan disana.
c.       Factor ekonomis
Dalam proses perkembanganya. Betapapun ukuranya bervariasi, seorang anak pasti memerlukan biaya. Biaya untuk makan dan minum dirumah, tetapi juga untuk mebeli alat – alat sekolah. Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”.
Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya. Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
d.      Factor cultural
Di Indonesia ini saja dari aceh sampai Irian jaya, jika dihitung ada berpuluh bahkan beratus kelompok masyarakat yang masing – masing mempunyai kultur, budaya, adat istiadat, dan tradisi tersendiri, dan hal ini jelas berpengaruh terhadap perkemangan anak – anak.
e.       Factor educatif
Pendidikan tak dapat disangkal mempunyai pengaruh terhadap perkembangan anak manusia. Malah karena sifatnya berencana dan sering kali diusahakan secara teratur, faktor pendidikan ini relatif paling besar pengaruhnya disbanding factor yang lain manapun juga. Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang.
Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan(sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
f.       Factor religious
Sebagai contoh seorang anak kyai, sudah pasti ia akan berebeda dengan anak lain yang tidak menjadi kyai, yang sekedar terhitung orang beragama, lebih – lebih yang memang tidak beragama sama sekali, ini adalah soal perkembangan pula, menyangkut proses terbentunya prilaku seorang anak dengan agama sebagai faktor penting yang mempengaruhinya.
g.      Factor keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak.
Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga
h.      Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial  anak. Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.

Aliran – Aliran Yang Mempengaruhi Perkembangan Peserta Didik
  1. Aliran Nativisme
            Native, artinya mengenai kelahiran atau pembawaaan, jadi aliran nativisme adalah paham yang menitikberatkan pentingnya factor dasar yang dibawa sejak lahir, Menurutnya perkembangan-perkembangan individu semata – mata dimungkinkan dan ditentukan oleh factor–factor yang dibawa sejak lahir. Dengan demikian, menurut aliran itu keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri
Para pendukung nativisme, biasanya mempertahankan kebenaran pandangan tersebut, yaitu dengan menunjuk berbagai kesamaan atau kemiripan antara pihak orang tua dengan anak – anaknya. Kata mereka : kalau ayahnya ahli musik maka anaknya ahli musik pula, anak pelukis akhirnya menjadi pelukis, anak pelayan demikian juga, bahkan anak penjahat akan cenderung jahat pula kelakuanya. Pepatah jawa menyatakan : “Kacang mongso ninggalno lanjaran” . Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Sopenhauer (1788 - 1860) seorang filsuf jerman. Aliran filsafat nativisme konon dijuluki sebagai aliran pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam.
  1. Aliran Empirisme
            Emperis berarti “pengalaman”. Maka emperisme maksudnya adalah: aliran yang mengutamakan peranan faktor pengalaman, lingkungan, pendidikan, dan tidak mengakui peranan factor dasar atau pembawaan sejak lahir.
Menurut kaum empiris, perkembangan individu itu semata – mata dimungkinkan dan ditentukan oleh factor lingkungan, sedang factor pembawaan tidak memainkan peranan sama sekali. Tokoh utama aliran empirisme adalah John Locke (1632 -1704), seorang yang terkenal menganggap pendidikan sebagai “maha kuasa” untuk mencetak manusia macam apa saja yang dicita - citakan. Sehingga tak ayal lagi sebagai hujjah untuk membenarkan pandangannya, pengikut aliran ini menunjuk pada pendidikan dengan segala fasilitas yang tersedia, dalam menciptakan orang - orang besar caliber dunia.
  1. Aliran konvergensi
            Dalam bahasa inggris converge artinya memusatkan pada satu titik, atau bertemu . Maka bisa diartikan, konvergensi adalah ’’titik pertemuan” Agaknya memang benar oleh karena kehadiran aliran ini telah mempertemukan dua pandangan ekstrim, natifisme dan emperisme. Tokoh utama konvergensi bernama Louis William Stern (1871 - 1938), sleorang filsuf dan psikolog Jerman, mengatakan bahwa perkembangan individu itu dimungkinkan dan dipengaruhi oleh dua factor, pembawaan dan lingkungan keduanya sama – sama penting, dan bisa diingkari satu oleh factor yang lain. Dengan pembawaan saja tanpa lingkungan, anak manusia tidak akan berkembang. Sebaliknya lingkungan saja tanpa pembawaan, ini juga tidak mungkin.




Video Pembelajaran sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia (peserta didik)


Hubungan antara ajaran kepemimpinan seorang guru pada ajaran kepemimpinan ki hajar dewantara terhadap perkembangan dan pertumbuhan peserta didik

MODEL KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
Perspektif Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro

Pimpinan suatu lembaga atau organisasi selalu ingin menumbuhkan motivasi kerja kepada setiap staf atau bawahannya, dengan harapan motivasi kerja yang tinggi akan menumbuhkan kinerja yang baik dan akan menghasilkan prestasi yang unggul dan bermutu. Dalam menumbuhkan motivasi kepada staf atau bawahan, pimpinan lembaga atau organisasi mempunyai cara yang berbeda. Cara-cara tersebut kemudian akan menjadi suatu model perilaku yang kemudian menjadi sebuah Gaya yang dapat disebut sebagai Gaya Kepemimpinan.
Kepemimpinan pendidikan yang bersifat efektif dan inovatif akan menjadikan lembaga pendidikan berkembang. Keberhasilan kepemimpinan di sekolah yaitu keberhasilan kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh hal-hal pokok meliputi : kepribadian, keteladanan, pemahaman konsep, kompetensi manajerial, dan profesionalisme kepala sekolah. Kepala sekolah yang berhasil adalah kepala sekolah yang dapat memanfaatkan kritik, saran dan masukan dari siapapun sebagai bahan pijakan untuk maju dan memperbaiki kekurangannya.
Filosofi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro yang sering kita dengar di sekolah dan dunia pendidikan pada umumnya serta sering kita baca di dalam buku-buku sejarah adalah ungkapan : ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani. Ungkapan tersebut sangat universal untuk diterapkan didunia pendidikan sebagai model atau gaya kepemimpinan yang digali dari falsafah bangsa Indonesia. Gaya kepemimpinan tersebut merupakan gaya kepemimpinan keteladanan yang saat ini sangat didambakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Filosofi problem solving sebagai ajaran yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantoro dengan menggunakan ungkapan bahasa jawa yang universal (sangat universal) yaitu Neng-Ning-Nung-Nang adalah salah satu gaya kepemimpinan yang merupakan hasil pemikiran asli bangsa Indonesia. Neng – berati meneng atau tenang, Ning – berarti wening atau bening, Nung – berarti dunung atau keberadaan (letak dimana), dan Nang – berarti wenang atau kemampuan/kompetensi.
Problem solving tersebut mengajarkan kepada para pemimpin dalam menghadapi suatu masalah, bahwa seorang pemimpin harus dapat memecahkan permasalahan tanpa membuat permasalahan baru. Dalam problem solving dikatakan “kita dapat menangkap ikan tanpa membuat air menjadi keruh”, atau “kita dapat menangkap ikan didalam kolam yang airnya keruh”. Dalam problem solving yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro, seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah dengan tepat dan dapat diterima oleh semua pihak tanpa ada yang merasa dirugikan.
Kepemimpinan dalam perspektif Ki Hajar Dewantoro, sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia adalah : Neng, Ning, Nung, Nang, yang merupakan singkatan dari : (1) Neng : Meneng ing solah bowo; (2) Ning : Wening ing pikir manungku pujo; (3) Nung : Dumunung kasunyatan; dan (4) Nang : Wenang ing jumenengan. Bila dikupas secara gamblang dalam kehidupan masa kini, maka perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro mengandung ajakan luhur yang harus dimiliki oleh para pememimpin bangsa, yang mana pada saat ini sudah banyak ditinggalkan.

Pendahuluan

Setiap pemimpin suatu lembaga atau organisasi selalu ingin menumbuhkan motivasi kerja kepada setiap staf atau bawahannya. Dengan harapan motivasi kerja yang tinggi akan menumbuhkan kinerja yang baik dan akan menghasilkan prestasi yang unggul dan bermutu. Dalam menumbuhkan motivasi kepada staf atau bawahan, pimpinan setiap lembaga atau organisasi mempunyai cara yang berbeda. Cara-cara tersebut kemudian menjadi suatu model perilaku yang kemudian menjadi sebuah Gaya yang selanjutnya disebut sebagai Model atau Gaya Kepemimpinan.

Gaya kepemimpinan yang kooperatif dapat mendorong staf atau bawahan meningkat motivasi kerjanya, sehingga produktifitas kerjanya meningkat pula. Dan sebaliknya gaya kepemimpinan yang lemah, kurang dalam mendukung staf dan tidak komunikatif akan mengakibatkan kurangnya motivasi kerja staf dan produktifitas akan menurun. Lebih jauh lagi bila gaya kepemimpinan yang diterapkan lemah dan tidak kooperatif atau tidak berorientasi kepada kebutuhan staf, maka akan menjadi bumerang bagi pemimpin itu sendiri, dan pemimpin yang demikian tidak akan diterima oleh bawahan.

Pembangunan Nasioanal melalui bidang pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, terampil, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian, mandiri, serta memiliki rasa tanggung jawab dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam upaya mencapai tujuan pembangunan nasional tersebut peranan pendidikan sangat menentukan. Pendidikan pada umumnya dilaksanakan di sekolah dengan menanamkan nilai-nilai luhur bangsa kepada siswa-siswinya melalui proses pembelajaran. Agar proses pembelajaran yang efektif dan efisien berjalan sesuai tujuan pembangunan nasional, perlu adanya kerja sama yang baik antara guru, orang tua siswa, masyarakat sebagai stake holder, yang dimotori dan dikoordinasikan oleh Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah adalah pemimpin tertinggi di sekolah. Pola kepemimpinannya sangat berpengaruh bahkan sangat menentukan terhadap kamajuan sekolah. Pada saat menjadi guru tugas pokoknya adalah mengajar dan mendidik siswa untuk mempelajari mata pelajaran tertentu sedang sebagai Kepala Sekolah tugas pokoknya adalah “memimpin“ dan “mengelola” segala aspek yang ada disekolah, meliputi : pengelolaan kesiswaan, pengelolaan pembelajaran, pengelolaan sarana prasarana dan fasilitas, pengelolaan SDM, pengelolaan kehumasan dan lain-lain yang bermuara pada pencapaian tujuan sekolah.

Memimpin dan mengelola sangat mudah untuk dikatakan tetapi sulit untuk dilaksanakan karena perlu keterampilan khusus dan pengorbanan terutama adalah keteladanan. Seorang Kepala Sekolah harus menjadi suri teladan, baik bagi guru dan stafnya maupun siswa. Dengan keteladanan akan menghasilkan kepemimpinan yang kuat sehingga pada gilirannya tujuan pendidikan nasional dapat tercapai sehingga generasi penerus bangsa akan menjadi generasi yang cerdas, terampil dan mandiri.

A. Kepemimpinan Pendidikan

Zaman yang berbeda menghasilkan pemikiran yang berbeda, zaman yang berbeda melahirkan pemimpin yang berbeda. Topik kepemimpinan bila dibahas dan dibicarakan, sangat menarik dan tidak akan ada habisnya. Berbagai tantangan kepemimpinan dan peran sentral pemimpin dalam menghadapi situasi turbulensi, khususnya yang dihadapi bangsa ini, sangat komplek dan memerlukan legitimasi sentral agar dapat diterima oleh semua pihak didalam menerapkan “kecerdasan” dalam kepemimpinannya.

Krisis yang dialami setiap organisasi, termasuk didalamnya organisasi pendidikan, berakar pada krisis kepemimpinan nasional, khususnya berupa tantangan terhadap kecerdasan kita, yang tidak dapat lagi diantisipasi sekedar dengan kecerdasan rasional (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), namun menuntut peran kunci kecerdasan spiritual (SQ) sebagai induk segala kecerdasan.

Belajar dan berubah adalah satu-satunya cara untuk tidak tergilas oleh gelombang turbulensi global. Proses tersebut diawali dengan membangun mental pembelajaran (learning mental) – self-awareness, self-acceptance, self-improvement – dan kemudian diikuti dengan membangun perilaku pembelajaran (learning behavior) – observe, assess, design, implement — dengan mendayagunakan daya transformatif yang dimiliki oleh kecerdasan spiritual (SQ) sebagai mesin penggeraknya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu faktor pendorong kemajuan adalah kepemimpinan yang kuat sekaligus melayani masyarakat. Pemimpin yang kuat sekaligus melayani adalah pemimpin yang berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan, bahwa inti kepemimpinan adalah memengaruhi (leadership is influence). Dalam hal ini, memengaruhi orang-orang yang dipimpin untuk melaksanakan sesuatu demi mencapai tujuan bersama, bukan kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan tertentu.

Prinsip kepemimpinan yang kuat sekaligus melayani, bisa diterapkan di semua tataran kepemimpinan. Mulai di tingkat rukun tetangga (RT), kepala desa/lurah, kepala daerah, organisasi, perusahaan, sampai kepemimpinan tingkat nasional. Dapat pula digunakan sebagai acuan masyarakat dalam mengharapkan kepemimpinan. Sayangnya, masih banyak pemimpin kita yang berperan sebagai penguasa (pangreh), bukan pamong. Bukan melayani, tapi ingin selalu dilayani.

Konsep kepemimpinan asli Indonesia yang sarat dengan falsafah luhur yang mungkin sebagian sudah terlupakan, seperti Tiga Peran Pemimpin dan Sepuluh Sifat Pemimpin yang Efektif dalam Kepemimpinan Sultan Banten, falsafah Wahyu Makuto Romo yang bersumber dari pewayangan, serta konsep kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro yang sudah lama kita kenal : ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangunkarso, tutwuri handayani.

Kepemimpinan Pendidikan di Indonesia bila kita lihat dari segala permasalahan yang dihadapi, lepas dari segala krisis kepemimpinan nasional, adalah kepemimpinan yang melayani dan kepemimpinan keteladanan. Model kepemimpinan tersebut lebih dekat dengan model kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro, seperti yang sudah sering kita dengar yaitu : Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangunkarso dan Tut wuri handayani.

Dalam ajaran Ki Hajar Dewantoro yang lain, yang belum banyak dibahas dalam karya-karya ilmiah, Ki Hajar Dewantoro memberikan 4 (empat) syarat kepribadian yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin, yaitu : Meneng ing solah bowo, Wening ing pikir manungku pujo, Dumunung kasunyatan, dan Wenang ing jumenengan.

Dari semua bahasan diatas, model kepemimpinan yang sesuai dan selaras dengan kondisi dan perkembangan pendidikan di Indonesia menurut penulis adalah perspektif kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro. Bila kita kupas, maka ada 14 (empat belas) sikap kepemimpinan yang di ajarkan yang dirangkum dalam 7 (tujuh) ajaran yaitu : (1) Keteladanan : Ing ngarso sung tulodo; (2) Motivasi : Ing madyo mangun karso; (3) Mendukung dan percaya kepada bawahan : Tut wuri handayani; (4) Sikap dan Kepribadian : Meneng Ing solah bowo; (5) Spiritual dan Berfikir positif : Weninging pikir manungku pujo; (6) Jujur, terbuka dan dapat dipercaya : Dumunung kasunyatan; dan (7) Berani, berkompeten dan profesional : Wenang ing jumenengan

B. Kepemimpinan Kepala Sekolah

Dapatkah Kepemimpinan Kepala Sekolah yang efektif dan inovatif menjadikan sekolah berkembang? Kepemimpinan Kepala Sekolah sangat dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Kepribadian, kepribadian yang kuat akan membentuk karakter diri menjadi tegas, cerdas dan ikhlas dalam menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Karakter diri akan mengembangkan pribadi yang percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial.
2. Memahami tujuan, dengan memahami tujuan pendidikan dengan baik, kepala sekolah akan selalu berjalan sesuai rel-rel hukum yang benar dalam mencapai tujuan sekolah. Dengan pemahaman yang baik kepala sekolah tidak akan menghalalkan segala cara, semua akan berjalan sesuai aturan yang berlaku.
3. Memiliki Pengetahuan yang Luas, dengan memiliki akar pengetahuan yang luas, seorang kepala sekolah akan senantiasa menerima kritik dan saran sebagai tolok ukur dan pijakan dalam bertindak dan menentukan kebijakan terutama kebijakan yang menyangkut kepentingan orang banyak. Dan kepala sekolah akan selalu menjadi manusia pembelajar.
4. Memiliki Kompetensi Profesional, keterampilan profesional yang terkait dengan tugasnya sebagai Kepala Sekolah, yaitu :
a. Ketermpilan teknis, yaitu melaksanakan fungsi manajemen sekolah dengan benar meliputi : perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan kontrol terhadap seluruh aspek kegiatan persekolahan dan mampu memberdayakan seluruh sumberdaya yang dimiliki oleh sekolah, baik sumberdaya bergerak maupun sumberdaya tidak bergerak.
b. Hubungan kamanusian, yaitu menyadari diri sebagai pribadi yang memiliki kekurangan sehingga senantiasa bekerja sama dengan orang lain, memotivasi, mendorong guru dan staf untuk maju, dan memberikan pengayoman kepada semua pihak.
5. Memiliki Keterampilan konseptual, seorang kepala sekolah harus memiliki ketrampilan konseptual sehingga dapat dengan benar mengembangkan konsep pengembangan sekolah, memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari jalan pemecahannya dengan tepat tanpa mengakibatkan gejolak apapun.

Dalam mengembangkan sekolah perlu dipahami dan dilaksanakan prinsip-prinsip kepemimpinan secara umum yang berlaku, yaitu :
1. Konstruktif, artinya Kepala Sekolah harus mendorong dan membina setiap staf untuk berkembang.
2. Kreatif, artinya Kepala Sekolah harus selalu mencari gagasan dan cara baru dalam melaksanakan tugas.
3. Partisipatif, artinya mendorong keterlibatan semua pihak yang terkait dalam setiap kegiatan di sekolah.
4. Kooperatif, artinya mementingakan kerja sama dengan staf dan pihak lain yang terkait dalam melaksanakan setiap kegiatan.
5. Delegatif, artinya berupaya mendelegasikan tugas kepada staf sesuai dengan tugas / jabatan serta kemampuan mereka.
6. Integratif, artinya selalu mengitegrasikan semua kegiatan sehingga dihasilkan sinergi untuk mencapai tujuan sekolah.
7. Rasional dan Objektif, artinya dalam melaksnakan tugas atau bertindak selalu berdasarkan pertimbangan rasio dan objektif.
8. Pragmatis dalam menetapkan kebijakan atau target. Kepala Sekolah harus mendasarkan pada kondisi nyata sumber daya yang dimiliki sekolah.
9. Keteladanan, artinya dalam memimpin sekolah, Kepala Sekolah dapat menjadi contoh yang baik.
10. Adaptabel dan Fleksibel, artinya Kepala Sekolah harus dapat beradaptasi dalam menghadapi situasi dan paradigma baru serta menciptakan situasi kerja yang kondusif.

Dewasa ini sangat benyak Model atau Gaya Kepemimpinan yang dapat diterapkan oleh para pimpinan atau lembaga dalam lembaga yang dipimpinnya. Kepala Sekolah dapat memilih dan menerapkan model atau gaya kepemimpinan yang sesuai dengan situasi maupun kondisi staf yang dipimpinnya. Diantara model dan gaya kepemimpinan tersebut adalah :
1. Gaya Kepemimpinan Delegatif : dalam gaya kepemimpinan ini kepala sekolah lebih banyak memberikan dukungan dan mendelegasikan tugas dan wewenang kepada staf sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh staf tersebut. Sehingga staf yang memiliki kemampuan baik akan termotivasi dan akan bekerja yang baik.
2. Gaya Kepemimpinan Partisifatif : Kepala Sekolah berpartisipasi aktif dalam mendorong staf untuk menggunakan kemampuannya secara optimal, jika mengahadapi staf yang memilki kamapuan kerja baik tetapi motivasi kerjanya kurang.
3. Gaya Kepemimpinan Konsultatif : Kepala Sekolah banyak memberikan bimbingan sehingga kemampuan staf secara bertahap meningkat, jika menghadapi staf yang memilki kerja yang kurang baik tetapi memilki motivasi kerja baik.
4. Gaya Kepemimpinan Instruktif : Kepala Sekolah lebih banyak memberi petunjuk yang spesifik dan secara ketat mengawasi staf dalam mngerjakan tugasnya.

C. Fungsi Kepemimpinan Kepala Sekolah

Dalam model Kepemimpinan modern, kepemimpinan Kepala Sekolah ada tujuh fungsi pokok yang sering kita sebut dengan akronim EMASLIM, yaitu : Kepala Sekolah sebagai (1) Educator, (2) Managjer, (3) Administrator, (4) Supervisor, (5) Leader, (6) Inovator, dan (7) Motivator.
1. Kepala Sekolah sebagai Educator
Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Dan kepala sekolah sebagai guru (edukator) tidak dapat lepas dari tugas utamanya yaitu mendidik. Dalam hal ini sebagai kepala sekolah, yang dididik bukan hanya siswa, akan tetapi seluruh staf dan seluruh warga sekolah yang dipimpin.
2. Kepala Sekolah sebagai Manajer
Sebagai manajer, kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya harus melakukannya dengan prinsip-prinsip manajemen yang benar dengan menjalankan fungsi : perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan kontrol. Fungsi-fungsi tersebut harus dijalankan pada seluruh aspek kegiatan yang ada di sekolah.
3. Kepala Sekolah sebagai Administrator
Sebagai administrator, berarti kepala sekolah harus menjalankan seluruh kegiatan administrasi sekolah, dan bertanggung jawab atas terlaksananya seluruh kegiatan administrasi di sekolah.
4. Kepala Sekolah sebagai Supervisor
Sebagai supervisor, kepala sekolah harus melakukan supervisi pada seluruh kegiatan yang ada di sekolah, dan melakukan kontrol agar seluruh kegiatan berjalan pada rel kebijakan yang telah ditetapkan.
5. Kepala Sekolah sebagai Leader
Sebagai leader atau pemimpin, kepala sekolah harus menjalankan fungsi kepemimpinan yang menjadi tanggung jawabnya. Kepala sekolah sebagai leader harus menetapkan garis-garis besar kebijakan, program dan kegiatan-kegiatan operasional, dan kepala sekolah bertanggung jawab atas terlaksananya seluruh kebijakan tersebut.
6. Kepala Sekolah sebagai Inovator
Sebagai inovator, kepala sekolah harus senantiasa mencari jalan pembaruan agar sekolah senantiasa berkembang mengikuti perkembangan iptek. Kepala Sekolah harus menjadi agen pembaharuan.
7. Kepala Sekolah sebagai Motivator
Sebagai motivator, kepala sekolah harus senantiasa memberikan motivasi dan dorongan kepada semua pihak untuk maju, berkembang sesuai dengan keinginan individu, dan berkembang guna memajukan institusi/lembaga.

D. Perspektif Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro

1. Filosofi Keteladanan

Filosofi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro yang terdengar klasik yang sering kita dengar di sekolah dan dunia pendidikan pada umumnya serta sering kita baca didalam buku sejarah adalah ungkapan : ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Ungkapan tersebut sangat universal untuk diterapkan didunia pendidikan, karakter kepemimpinan, dan di dalam ilmu lain yang mempelajari tentang perilaku manusia.

Bila kita kupas satu persatu ungkapan Ki Hajar Dewantoro tersebut dalam kontek kepemimpinan pendidikan maka pemimpin yang handal harus memiliki sikap :
a. Ing ngarso sung tulodo, artinya dihadapan staf, pemimpin harus dapat memberi teladan kepada seluruh bawahan atau staf yang dipimpin, untuk berlaku jujur, disiplin, terbuka, berfikir positif, dan berkepribadian yang kuat (berkarakter).
b. Ing madyo mangun karso, yang artinya diantara (dalam kebersamaan dengan) staf yang dipimpinnya, pemimpin harus dapat membangkitkan semangat (motivasi) kepada seluruh staf dan menjadi mitra yang sejajar untuk bersama-sama maju menjadi agen pembaruan, dan mengajak staf untuk membangun gagasan dan kemudian mewujudkannya secara bersama-sama.
c. Tut wuru handayani, yang artinya pemimpin pada saat dibelakang (ada maupun tidak ada staf) selalu berusaha memberikan kepercayaan kepada staf yang dipimpin, mendorong dan mendukung setiap staf untuk tampil maju menunjukkan kemampuannya.

Dari tiga rangkaian kata yang merupakan ungkapan bagaimana seorang pemimpin seharusnya, bagaimana seorang pemimpin harus bersikap, dan bagaimana seorang pemimpin memotivasi bawahannya, maka dapat dikatakan disini bahwa Ki Hajar Dewantoro lebih menekankan kepada pemimpin dan calon-calon pemimpin bahwa yang utama harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah suatu sikap keteladanan, yang mencakup seluruh aspek kehidupan yaitu : Jujur, disiplin, terbuka, berfikir positif, dan berkepribadian yang kuat (berkarakter). Bila para pemimpin memiliki sikap ketaladanan, maka tatanan kehidupan di dalam Pemerintahan akan lebih baik dan permasalahan yang mungkin timbul dapat ditekan sekecil mungkin terutama permasalahan-permasalahan di bidang pendidikan.

2. Problem Solving Ki Hajar Dewantoro

Barangkali kita pernah mendengar ungkapan Neng-Ning-Nung-Nang yang merupakan filosofi problem solving yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro dengan menggunakan ungkapan bahasa jawa yang universal (sangat universal). Neng–berati meneng atau tenang, Ning–berarti wening atau bening, Nung–berarti dunung atau keberadaan (tempat dimana), dan Nang–berarti wenang atau kemampuan/kompetensi, (Keterangan : Kompetensi—kewenangan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki).

Dalam menghadapi suatu masalah, seorang pemimpin harus dapat memecahkannya dengan tenang, berfikir positif, tanpa membuat gejolak apapun, serta dapat diterima oleh semua pihak yang berkepentingan. Problem solving yang diajukan oleh Ki Hajar Dewantoro diilustrasikan sebagai cara menangkap ikan di dalam air keruh — ikannya terangkap, airnya menjadi bening. Bagaimana caranya?

Pertama, untuk dapat menangkap ikan pada air keruh, maka airnya harus meneng (Neng), air harus didiamkan agar tenang atau meneng. Bila air sudah menjadi tenang, maka air akan berubah menjadi bening (Ning). Kedua, bila air sudah tenang dan menjadi bening, maka akan kelihatan dimana dunung-nya (Nung) ikan yang akan kita tangkap. Ketiga, bila kita sudah tahu dimana dunungnya ikan yang akan kita tangkap, maka kita akan dengan mudah menentukan bagaimana cara menangkapnya, dengan alat apa, siapa yang harus menangkap, sesuai dengan kompetensi atau ke-wenang-an (Nang) siapa. Keempat, pemimpin selanjutnya akan menetapkan kewenangan siapa yang layak dan seharusnya menangkap ikan tersebut.

Jadi dalam problem solving ini, intinya pemimpin akan dengan tanpa ragu-ragu menetapkan siapa mengerjakan apa, siapa sebagai apa, dan siapa melakukan kewenangan apa didalam suatu lembaga yang dipimpinnya.

3. Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro

Menurut perspektif Ki Hajar Dewantoro, kepemimpinan yang sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia adalah : Neng, Ning, Nung, Nang, yang merupakan sari ungkapan (singkatan) dari : (1) Neng : Meneng ing solah bowo; (2) Ning : Wening ing pikir manungku pujo; (3) Nung : Dumunung kasunyatan; dan (4) Nang : Wenang ing jumenengan. Bila dikupas secara gamblang dalam kehidupan masa kini, maka perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro mengandung ajakan luhur yang harus dimiliki oleh para pememimpin bangsa, yang mana pada saat ini sudah banyak ditinggalkan.

Secara lengkap perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro dapat dijabarkan dengan bahasa yang sederhana sebagai berikut :
a. Neng : Meneng Ing Solah Bowo
Pemimpin harus memiliki kepribadian Meneng ing Solah bowo, artinya seorang pemimpin harus bersikap tenang dalam menghadapi segala permasalahan yang mungkin timbul dalam kepemimpinannya. Selain dari itu, pemimpin dalam memutuskan permasalahan, mengambil kebijakan, menetapkan program harus senantiasa tenang, tidak sembarangan (grusah-grusuh), semua melalui pertimbangan yang panjang, cerdas, dan ikhlas. Bila pemimpin memiliki kepribadian tersebut maka pemimpin akan berwibawa, diterima dan disegani oleh mereka yang dipimpin.
b. Ning : Weninging Pikir Manungku Pujo
Pemimpin yang Wening ing Pikir Manungku Pujo, senantiasa memproyeksikan segala sesuatu yang dihadapi adalah berasal dari kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga dalam melakukan pemecahan masalah, penentuan kebijakan, dan penetapan program maupun kegiatan di dalam lembaga yang dipimpin selalu dilandasi dengan pikiran positif bahwa semua yang dikerjakan akan mendapat ridho dari Allah Tuhan YME. Pemimpin yang demikian selalu berfikir positif (sabar, eling dan narimo) dan melaksanakan tugas tanpa beban dan tanpa pamrih.
c. Nung : Dumunung Kasunyatan
Seorang pemimpin harus Dumunung Kasunyatan. Pemimpin harus berkehendak, berbicara, dan bertindak sesuai dengan kenyataan yang ada. Tidak ada hal-hal yang ditutupi dan tidak ada pilih kasih. Ciri pemimpin yang Dumunung Kasunyatan selalu mengedepankan : Kejujuran, Keikhlasan, dan menjaga Nilai-nilai luhur yang menjadi akar budaya masyarakat dan budaya organisasi. Pemimpin yang demikian dapat menyesuaikan dengan keadaan dimanapun dia berada. Dumunung Kasunyatan juga dapat berarti bahwa : Perkataan (lati), Fikiran (ati) dan Tindakan (pekerti) adalah sama, sehingga pemimpin yang demikian melakukan tindakan apapun tenang dan tanpa beban. Antara pembicaraan, tindakan dan fikiran selaras dan sejalan, dalam bahasa jawa dikatakan bahwa : “Dadi pemimpin iku kudu Jumbuh antarane pikiran, tindakan lan pangandikan, yen ora, nroko papane”.
d. Nang : Wenang Ing Jumenengan
Sikap Wenang ing Jumenengan dari seorang pemimpin adalah menyangkut masalah kompetensi dan kepampuan profesional seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya yang terkait dengan manajemen sumber daya manusia. Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya harus mampu melaksanakan kewenangannya dalam membagi tugas sesuai dengan kemampuan staf yang dipimpin. Wenang ing jumenengan selaras dengan pepatah populer : “The right man in the right place”, artinya pemimpin harus memiliki kewenangan untuk mampu membagi tugas sesuai dengan kompetensi-kompetensi yang dimiliki oleh staf yang dipimpin. Berikan tugas kepada ahlinya. Akan tetapi yang sering terjadi pada saat ini adalah kewenangan yang sewenang-wenang, dengan alasan hak prerogatif. Hal ini tidak masuk dalam kepemimpinan yang diajarkan menurut perspektif Ki Hajar Dewantoro.

Perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro yang selaras dengan falsafah Kepemimpinan Jawa saat ini sudah banyak ditinggalkan oleh para pemimpin bangsa saat ini. Akan tetapi sebagai kekayaan falsafah dan ilmu pengetahuan bangsa, maka tidak ada salahnya apabila perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro ini digali kembali untuk dikembangkan dan diterapkan pada model-model kepemimpinan, terutama kepemimpinan di dalam dunia pendidikan yang memerlukan Keteladanan, Motivasi, Kejujuran, Kerja Keras dan Kerja Ikhlas menuju dunia pendidikan yang dapat bersaing di kancah Regional dan Internasional.

E. Kesimpulan

1. Model Kepemimpinan yang diajarkan Ki Hajar Dewantoro dapat dibagi dalam 7 (tujuh) sikap kepemimpinan yang dipersyaratkan sebagai seorang pemimpin yaitu : (1) Keteladanan : Ing ngarso sung tulodo; (2) Motivasi : Ing madyo mangun karso; (3) Mendukung dan percaya kepada bawahan : Tut wuri handayani; (4) Sikap dan Kepribadian : Meneng Ing solah bowo; (5) Spiritual dan Berfikir positif : Weninging pikir manungku pujo; (6) Jujur, terbuka dan dapat dipercaya : Dumunung kasunyatan; dan (7) Berani, berkompeten dan profesional : Wenang ing jumenengan.
2. Kepemimpinan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan jaman dan sesuai dengan paradigma perkembangan pendidikan di Indonesia adalah Falsafah kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro yang bila dijabarkan akan menjadi 7 (tujuh) kepribadian pemimpin meliputi :
a. Keteladanan, yaitu pemimpin harus memiliki sikap dan kepribadian yang dapat diteladani oleh staf dan bawahan yang dipimpin
b. Motivasi, yaitu pemimpin harus senantiasa memberikan motivasi kepada staf yang dipimpin untuk selalu mengembangkan diri dan bersama-sama maju untuk kepentingan bersama, kepentingan lembaga diatas kepentingan pribadi.
c. Legowo, yaitu sifat pemimpin yang memberikan kepercayaan penuh kepada staf yang dipimpin untuk mengerjakan tugas yang diberikan tanpa tendensi apapun.
d. Tenang, yaitu pemimpin harus tenang dalam menghadapi permasalahan yang timbul dan mungkin akan terjadi dalam lembaga yang dipimpinnya.
e. Berfikir Positif, yaitu pemimpin harus senantiasa berfikir positif dan memperspektifkan bahwa segala yang terjadi didalam lembaga adalah karena kehendak Yang Maha Kuasa.
f. Jujur, Ikhlas dan Dapat dipercaya, yaitu pemimpin yang berfikir, bertindak dan berbuat sesuai kenyataan, apa adanya, adil dalam tindakan, perkataan dan pikiran.
g. Berkompeten dan Profesional, yaitu pemimpin memahami bahwa kepentingan lembaga adalah diatas kepentingannya, sehingga dalam melakukan tugas, membagi kewenangan selalu memperhatikan kepentingan lembaga, sehingga tidak sewenang-wenang. Segala tindakan selalu diproyeksikan untuk kemajuan lembaga secara benar dan menyeluruh.
3. Perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro hanya akan menjadi cerita bila tidak digali, dicermati dan dilaksanakan oleh generasi penerus bangsa. Ajaran kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro perlu dibangkitkan kembali sebagai falsafah bangsa untuk mengisi 100 tahun Kebangkitan Bangsa Indonesia.

Kamis, 01 November 2012

Sejarah Perkembangan Internet Dunia

Internet merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969, melalui proyek ARPA yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network), di mana mereka mendemonstrasikan bagaimana dengan hardware dan software komputer yang berbasis UNIX, kita bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon.

Sejarah internet dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika, Defense Advanced Research Projects Agency(DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset tentang bagaimana caranya menghubungkan sejumlah computer sehingga membentuk jaringan organik. Program riset ini dikenal dengan nama ARPANET.


Pada 1970, sudah lebih dari 10 komputer yang berhasil dihubungkan satu sama lain sehingga mereka bisa saling berkomunikasi dan membentuk sebuah jaringan. Tahun 1972, Roy Tomlinson berhasil menyempurnakan program e-mail yang ia ciptakan setahun yang lalu untuk ARPANET. Program e-mail ini begitu mudah sehingga langsung menjadi populer.

Pada tahun yang sama, icon @ juga diperkenalkan sebagai lambang penting yang menunjukan "at" atau "pada". tahun 1973, jaringan komputer ARPANET mulai dikembangkan ke luar Amerika Serikat. Komputer University College di London merupakan komputer pertama yang ada di luar Amerika yang menjadi anggota jaringan Arpanet. Pada tahun yang sama, dua orang ahli komputer yakni Vinton Cerf dan Bob Kahn mempresentasikan sebuah gagasan yang lebih besar, yang menjadi cikal bakal pemikiran internet. Ide ini dipresentasikan untuk pertama kalinya di Universitas Sussex.

Hari bersejarah berikutnya adalah tanggal 26 Maret 1976, ketika Ratu Inggris berhasil mengirimkan e-mail dari Royal Signals and Radar Establishment di Malvern. Setahun kemudian, sudah lebih dari 100 komputer yang bergabung di ARPANET membentuk sebuah jaringan atau network. Pada 1979, Tom Truscott, Jim Ellis dan Steve Bellovin, menciptakan newsgroups pertama yang diberi nama USENET. Tahun 1981 France Telecom menciptakan gebrakan dengan meluncurkan telpon televisi pertama, dimana orang bisa saling menelpon sambil berhubungan dengan video link.

Karena komputer yang membentuk jaringan semakin hari semakin banyak, maka dibutuhkan sebuah protokol resmi yang diakui oleh semua jaringan. Pada tahun 1982 dibentuk Transmission Control Protocol atau TCP dan Internet Protokol atau IP yang kita kenal semua. Sementara itu di Eropa muncul jaringan komputer tandingan yang dikenal dengan Eunet, yang menyediakan jasa jaringan komputer di negara-negara Belanda, Inggris, Denmark dan Swedia. Jaringan Eunet menyediakan jasa e-mail dan newsgroup USENET.

Untuk menyeragamkan alamat di jaringan komputer yang ada, maka pada tahun 1984 diperkenalkan sistem nama domain, yang kini kita kenal dengan DNS atau Domain Name System. Komputer yang tersambung dengan jaringan yang ada sudah melebihi 1000 komputer lebih. Pada 1987 jumlah komputer yang tersambung ke jaringan melonjak 10 kali lipat manjadi 10.000 lebih. Tahun 1988, Jarko Oikarinen dari Finland menemukan dan sekaligus memperkenalkan IRC atau Internet Relay Chat. Setahun kemudian, jumlah komputer yang saling berhubungan kembali melonjak 10 kali lipat dalam setahun. Tak kurang dari 100.000 komputer kini membentuk sebuah jaringan.

Tahun 1990 adalah tahun yang paling bersejarah, ketika Tim Berners Lee menemukan program editor dan browser yang bias menjelajah antara satu komputer dengan komputer yang lainnya, yang membentuk jaringan itu. Program inilah yang disebut www, atau Worl Wide Web. Tahun 1992, komputer yang saling tersambung membentuk jaringan sudah melampaui sejuta komputer, dan di tahun yang sama muncul istilah surfing the internet. Tahun 1994, situs internet telah tumbuh menjadi 3000 alamat halaman, dan untuk pertama kalinya virtual-shopping atau e-retail muncul di internet. Dunia langsung berubah. Di tahun yang sama Yahoo! didirikan, yang juga sekaligus kelahiran Netscape Navigator 1.0.

Internet Saat Ini

Internet dijaga oleh perjanjian bi- atau multilateral dan spesifikasi teknikal (protokol yang menerangkan tentang perpindahan data antara rangkaian). Protokol-protokol ini dibentuk berdasarkan perbincangan Internet Engineering Task Force (IETF), yang terbuka kepada umum. Badan ini mengeluarkan dokumen yang dikenali sebagai RFC (Request for Comments). Sebagian dari RFC dijadikan Standar Internet (Internet Standard), oleh Badan Arsitektur Internet (Internet Architecture Board - IAB). Protokol-protokol Internet yang sering digunakan adalah seperti, IP, TCP, UDP, DNS, PPP, SLIP, ICMP, POP3, IMAP, SMTP, HTTP, HTTPS, SSH, Telnet, FTP, LDAP, dan SSL. Beberapa layanan populer di Internet yang menggunakan protokol di atas, ialah email/surat elektronik, Usenet, Newsgroup, berbagi berkas (File Sharing), WWW (World Wide Web), Gopher, akses sesi (Session Access), WAIS, finger, IRC, MUD, dan MUSH. Di antara semua ini, email/surat elektronik dan World Wide Web lebih kerap digunakan, dan lebih banyak servis yang dibangun berdasarkannya, seperti milis (Mailing List) dan Weblog. Internet memungkinkan adanya servis terkini (Real-time service), seperti web radio, dan webcast, yang dapat diakses di seluruh dunia. Selain itu melalui Internet dimungkinkan untuk berkomunikasi secara langsung antara dua pengguna atau lebih melalui program pengirim pesan instan seperti Camfrog, Pidgin (Gaim), Trilian, Kopete, Yahoo! Messenger, MSN Messenger dan Windows Live Messenger. Beberapa servis Internet populer yang berdasarkan sistem tertutup (Proprietary System), adalah seperti IRC, ICQ, AIM, CDDB, dan Gnutella.

Budaya Internet

Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang, telah mewujudkan budaya Internet. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses Internet yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran(decentralization) / pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara ekstrim. Perkembangan Internet juga telah mempengaruhi perkembangan ekonomi. Berbagai transaksi jual beli yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan cara tatap muka (dan sebagian sangat kecil melalui pos atau telepon), kini sangat mudah dan sering dilakukan melalui Internet.

Transaksi melalui Internet ini dikenal dengan nama e-commerce. Terkait dengan pemerintahan, Internet juga memicu tumbuhnya transparansi pelaksanaan pemerintahan melalui e-government seperti di kabupaten Sragen yang mana ternyata berhasil memberikan peningkatan pemasukan daerah dengan memanfaatkan Internet untuk transparansi pengelolaan dana masyarakat dan pemangkasan jalur birokrasi, sehingga warga di daerah terebut sangat di untungkan demikian para pegawai negeri sipil dapat pula di tingkatkan kesejahterannya karena pemasukan daerah meningkat tajam.

Tata tertib Internet

Sama seperti halnya sebuah komunitas, Internet juga mempunyai tata tertib tertentu, yang dikenal dengan nama Nettiquette atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah netiket. Untuk di Indonesia selain tata tertib sosial di Internet juga diberlakukan peraturan (UU ITE).

Isu moral dan undang-undang

Terdapat kebimbangan masyarakat tentang Internet yang berpuncak pada beberapa bahan kontroversi di dalamnya. Pelanggaran hak cipta, pornografi, pencurian identitas, dan pernyataan kebencian (hate speech), adalah biasa dan sulit dijaga. Hingga tahun 2007, Indonesia masih belum memiliki Cyberlaw, padahal draft akademis RUU Cyberlaw sudah dibahas sejak tahun 2000 oleh Ditjen Postel dan Deperindag. UU yang masih ada kaitannya dengan teknologi informasi dan telekomunikasi adalah UU Telekomunikasi tahun 1999. Internet juga disalahkan oleh sebagian orang karena dianggap menjadi sebab kematian. Brandon Vedas meninggal dunia akibat pemakaian narkotik yang melampaui batas dengan semangat dari teman-teman chatting IRCnya. Shawn Woolley bunuh diri karena ketagihan dengan permainan online, Everquest. Brandes ditikam bunuh, dan dimakan oleh Armin Meiwes setelah menjawab iklan dalam Internet.

Akses Internet

Negara dengan akses Internet yang terbaik termasuk Korea Selatan (50% daripada penduduknya mempunyai akses jalurlebar - Broadband), dan Swedia. Terdapat dua bentuk akses Internet yang umum, yaitu dial-up, dan jalurlebar. Di Indonesia, seperti negara berkembang dimana akses Internet dan penetrasi PC sudah cukup tinggi dengan di dukungnya Internet murah dan netbook murah, hanya saja di Indonesia operator kurang fair dalam menentukan harga dan bahkan ada salah satu operator yang sengaja membuat "perangkap jebakan" agar supaya si pengguna Internet bayar lebih mahal sampai ber juta-juta rupiah!!, lainnya sekitar 42% dari akses Internet melalui fasilitas Public Internet akses seperti warnet , cybercafe, hotspot dll. Tempat umum lainnya yang sering dipakai untuk akses Internet adalah di kampus dan di kantor.

Disamping menggunakan PC (Personal Computer), kita juga dapat mengakses Internet melalui Handphone (HP) menggunakan Fasilitas yang disebut GPRS (General Packet Radio Service). GPRS merupakan salah satu standar komunikasi wireless (nirkabel) yang memiliki kecepatan koneksi 115 kbps dan mendukung aplikasi yang lebih luas (grafis dan multimedia). Teknologi GPRS dapat diakses yang mendukung fasilitas tersebut. Pen-setting-an GPRS pada ponsel Tergantung dari operator (Telkomsel, Indosat, XL, 3) yang digunakan. Biaya akses Internet dihitung melalui besarnya kapasitas (per-kilobite) yang didownload.